Monday, 4 January 2021
Saturday, 28 November 2020
100 Sebelum Menggunakan Barang Orang Lain, Mintalah Izin Terlebih Dahulu
Cerita Budi Pekerti
100
Sebelum Menggunakan
Barang Orang Lain, Mintalah Izin Terlebih Dahulu
Ada seorang anak perempuan baru berusia enam tahun, hari
itu cuaca di sekolah agak dingin, gurunya mengambil sepasang sepatu katun milik
teman sekelas untuk dipakai olehnya, namun anak ini tidak mau memakainya, dia
bilang bahwa teman sekelasnya ini belum menyetujuinya. “Sebelum menggunakan
barang orang lain, mintalah izin terlebih dahulu, jika tanpa izin, berarti
mencuri”
Sesungguhnya, anak-anak adalah senjata ampuh untuk
belajar tentang kebenaran, mereka masih sangat lugu. Pendidikan etika ini juga
dapat dijadikan bahasa sehari-hari dalam keluarga, guna membangun kesepakatan
bersama. Bagaimanapun hubungan antar anggota keluargalah yang paling dekat dan
erat, namun hubungan yang semakin akrab bukan berarti bersikap sopan sudah
tidak diperlukan, jika tidak maka dengan seiring berjalannya waktu, rasa kesal
yang terakumulasi akan meledak jadi amarah, sehingga mengakibatkan
pertengkaran.
Ada sepasang kakak adik yang masih berusia kecil, suatu
hari si kakak pulang dari sekolah langsung memarahi adiknya, si adik begitu
sedih, sambil menangis pergi mencari mamanya. Mamanya yang sedang berada di
dapur, bertanya pada putrinya: “Kenapa menangis?” Si adik berkata: “Kakak
memarahiku.” Tentu saja begitu mendengarnya mamanya tidak langsung pergi
memarahi si kakak, namun harus memahami kondisinya dengan teliti dan jelas.
Apakah ini penting? Banyak sekali orang tua merasa
seorang abang tidak boleh memarahi adik perempuannya dan tidak boleh memukuli
adik laki-lakinya, tetapi hal ini akan membuat hati si abang dan si kakak tidak
bisa menerimanya, orang tua seharusnya mencari tahu terlebih dulu seluk-beluk
permasalahan.
Maka itu, si mama bertanya lagi pada putrinya: “Mengapa
kakak memarahimu?” Putrinya bilang: “Saya sudah mengambil mainannya kakak.”
Mamanya pun berkata: “Sebelum menggunakan barang orang lain...” Lanjut
putrinya: “mintalah izin terlebih dahulu.” Mamanya berkata lagi: “Jika tanpa
izin...” Putrinya lanjut berkata: “berarti mencuri.”
Alhasil, usai mengucap kalimat tersebut, putrinya
menangis lebih keras lagi, sambil menangis dia berkata: “Mama, saya tidak ingin
menjadi pencuri.” Melalui kesempatan ini, si mama menyampaikan kebenaran ke
dalam hati putrinya, sesungguhnya tiap bait kalimat ‘Di Zi Gui’ merupakan norma
keluarga yang sangat bagus.
Dikutip dari: Ebook “Cerita Budi Pekerti”
( Seputar
“Berinteraksi dengan orang lain” )
Pembicara: Guru Cai Li-xu
Edisi: Tahun 2008
教化实例 ~ 【待人接物篇】
用人物 须明求
有个小女孩才六岁,那天天气比较冷,老师就拿了其他同学的棉鞋给她穿,她就是不穿,她说因为这个同学没有同意给我穿,‘用人物,须明求,倘不问,即为偷’。确实,小孩是学道的利器,很老实。这条教诲也可以成为家庭中的共同语言,建立共识。毕竟家里的人比较亲密,距离比较近,但是距离愈近,其礼愈不可失,不然久而久之怨就会积累,总有一天可能会爆发,就会吵架。
有一对姊妹,年纪都很小,有一天姊姊回来就骂了妹妹,妹妹很伤心哭着去找妈妈。妈妈在厨房里,看着女儿在哭,就问她:‘为什么哭?’她说:‘姊姊骂我。’当然妈妈并没有听到姊姊骂她就去骂姊姊,而是要仔细的把情况了解清楚。这一点是否重要?很多家长觉得哥哥不能骂妹妹,哥哥不能打弟弟,但这会让哥哥、姊姊心里不服气,还是要把事情的来龙去脉搞清楚。所以,她就继续问女儿:‘姊姊为什么骂你?’女儿就说:‘因为我拿了姊姊的玩具。’妈妈就说:‘用人物。’小女孩就说:‘须明求。’妈妈又说:‘倘不问。’她说:‘即为偷。’结果女儿自己讲完,就哭得更厉害,一边哭一边说:‘妈妈,我不要当小偷。’藉由这个机会点,把道理融入她的心中,其实《弟子规》的每一句话都是很好的家庭规范。
【德育故事 ~ 小故事 真智慧】
~蔡礼旭老师 讲述~
99 Mengajarkan Kejujuran dan Bermawas Diri Sejak Awal
Cerita Budi Pekerti 99
Mengajarkan Kejujuran dan Bermawas Diri Sejak Awal
Mengapa orang zaman dulu menganjurkan agar “Mengamalkan
bakti dan jujur”? Oleh karena berbakti adalah landasan dari moralitas, di mana
ada bakti di situ ada etika moral; dengan memiliki hati jujur, maka seseorang
tidak akan serakah ketika dia bekerja untuk banyak orang. Kejujuran adalah akar
dari kesuksesan, jadi akar dari seorang manusia yang baik dan keterampilannya
dalam melakukan pekerjaan terletak pada bakti dan kejujurannya.
Terkadang anak memang tidak berniat ingin mencuri
sesuatu, namun tindakan mencuri ini tidak dimengerti olehnya, dia hanya merasa
barang yang diambil itu menyenangkan, maka itu sebagai ayahbunda haruslah peka.
Ada seorang mama membawa buah hatinya membeli buku di
sebuah toko buku, ketika keluar dari toko tersebut, si mama baru menyadari
bahwa anaknya mengambil kunci dari buku harian yang dijual. Mama ini langsung kembali
dan berkata pada nona penjaga toko: “Di manakah saya harus meletakkan kunci
kecil ini?” Nona ini berkata: “Tidak apa-apa, hanya barang kecil, biarkan saja
dia main!”
Si mama juga tidak bermawas diri, memberikan kunci ini
pada anaknya lalu pulang ke rumah. Kemudian setelah bersekolah di Taman
Kanak-Kanak, anaknya seringkali membawa pulang barang-barang kecil yang ada di
sekolah. Maka itu, yang terpenting dalam mendidik anak adalah harus dimulai
dari bermawas diri sejak awal, jika anak tidak dididik sejak awal, kelak akan
sulit untuk mendidiknya.
Seorang mama lainnya berkata, suatu kali dia membawa buah
hatinya ke pasar untuk membeli sayur. Ketika menoleh ke belakang, tiba-tiba anaknya
sudah memegang sebuah jambu biji, si mama sangat bermawas diri, bergegas dia
berbalik dan mencari toko yang menjual jambu biji ini. Bos toko ini berkata:
“Tidak apa-apa, buat dia, buat dia.”
Sikap peka orang dewasa masa kini terhadap makna dari pendidikan
moral tidaklah cukup, memang kelihatan berbaik hati namun sesungguhnya sedang
melakukan hal jahat. Mama ini segera memberikan sejumlah uang kepada anaknya,
berkata bahwa kamu pasti harus membayar setiap mengambil barang apapun milik
orang lain, bahkan membiarkan anaknya menyerahkan sendiri uang tersebut.
Kesempatan mendidik anak ini harus digenggam erat.
Ayahbunda harus selalu mengamati air muka anak-anak, jika
anak berbuat hal buruk maka akan tercermin di wajahnya. Tetapi di masa kini
banyak anak yang berbohong tanpa berubah ekspresi wajahnya, mengapa demikian? Ini
adalah hasil berlatih mereka sejak kecil. Maka itu, asalkan sejak awal
anak-anak dapat dibimbing dengan benar, kita pasti akan menyadari jika mereka
berbuat salah.
Ada seorang anak yang baru saja masuk Sekolah Dasar,
suatu hari usai sekolah dia pulang dengan raut muka yang tidak seperti biasanya.
Begitu melihat wajah si anak yang aneh, mamanya segera memeriksa tas sekolah
anaknya, alhasil si mama menemukan ada 2-3 buah apel di dalam tas. Dia pun
segera memanggil anaknya dan bertanya: “Darimana apel ini berasal?”
Si anak tahu sudah berbuat salah, maka itu dia sangat
gugup! Dia bilang bahwa saat bermain bersama teman-teman sekelasnya, mereka
mengambil buah ini dari lapak seorang penjual buah. Begitu mendengarnya, si
mama segera membawa anaknya, sambil membungkuk memberi hormat, dia berkata pada
penjual buah ini: “Maaf, anak saya telah mengambil apel anda, saya minta maaf
pada anda, tidak mendidik anak saya dengan baik, berapa harganya, saya akan
membayar anda sekarang.” Si anak berdiri di samping mamanya, yakinlah bahwa
dengan sikap mamanya yang sedemikian akan membangkitkan hati tahu malu pada
diri si anak, bahkan anak juga akan mengingat pelajaran ini di sepanjang
hidupnya.
Dikutip dari: Ebook
“Cerita Budi Pekerti”
( Seputar “Berinteraksi dengan orang lain” )
Pembicara:
Guru Cai Li-xu
Edisi:
Tahun 2008
教化实例 ~ 【待人接物篇】
教廉慎于始
古代为什么要提倡‘举孝廉’?因为孝是德之本,有孝就有德行;而有廉洁之心,他替众人办事才不会贪婪。廉洁是办事能否成功的根本,所以做人做事的根本在孝、廉。有时,孩子拿东西并不是想偷,而是一个不了解的动作,他觉得好玩就拿起来,所以做父母的要很敏感。有一位妈妈带着孩子到书局去逛,逛完出来的时候,才发现孩子拿了日记本上的小钥匙。妈妈就回过头来,跟书局的小姐说:‘这个小钥匙不知道放哪里?’小姐就说:‘小东西,没有关系,给他玩吧!’母亲也没有警觉,拿给孩子就回来了。后来孩子上幼儿园后,常常都带些小东西回来。所以,教育的关键是慎于开始,一开始没有教他,往后就很难教导。
另外有一位妈妈说,有一次带孩子去菜市场买菜。突然回头一看,孩子手上拿了一颗芭乐,她很警觉就回过头来,赶快去找这间商店。商店的老板讲:‘没关系,给他,给他。’现在大人的教育观念敏感度不够,反而好心行了恶事。这位母亲立刻就拿了钱交给孩子,说你拿人家任何东西一定要给钱,还让孩子亲手把钱交给老板。这些机会点都要掌握住。
做父母的要常常观察孩子的脸色,因为他做了坏事会表现在脸上。可是现在很多孩子说谎都面不改色,为什么会这样?从小磨炼出来的。所以,只要你一开始能导正,一定都可以发现。有个孩子刚上了小学,有一天回来脸色怪怪的。妈妈看到孩子脸色怪怪的,就去翻孩子的书包,结果发现里面有两、三颗苹果。她就把孩子叫过来问:‘苹果从哪里来的?’孩子也知道错了,很紧张!他说我们同学好玩就顺手在人家摊贩上把一些水果拿走。妈妈一听立刻带着孩子到水果店,恭恭敬敬给人家鞠躬,对他说:‘对不起,我的孩子拿了你的水果,我跟你道歉,我没有把孩子教好,要多少钱,我现在马上付给你。’她的孩子在一旁站着,相信妈妈的这种态度会唤醒孩子的惭愧之心,而孩子也会一辈子都记住这个教训。
【德育故事 ~ 小故事 真智慧】
~蔡礼旭老师 讲述~


